Indonesia, begitulah karib saya itu, seperti halnya karib saya yang lain, kita sudah terbiasa ngobrol sampai tak terasa malam semakin mendekati pagi, memang kami beda usia jauh, hanya karena kami memiliki kesamaan, tak tahu bagaimana membunuh waktu-waktu senggang di usia yang tak bisa dibilang muda lagi.
Lama tak ketemu, matanya kuyu, wajahnya penuh kerutan karya usia, jalannya tak lagi banter, tangannya gerayangan mencari pegangan, giginya perlahan satu persatu pamit tanpa permisi., hidup sebatang kara.
Penyakit telah mulai menggerogotinya perlahan, jantungnya adalah ekonomi melorot, ngos-ngosan, hatinya adalah keadilan yang terkebiri, rambutnya adalah hutan tergunduli, darahnya adalah aparat bejat, dan sederet medical record menurun tentang kesehatannya.
Keluh kesahnya tentang hidup yang tanpa jeda itu membuat saya lupa menanyakan kabar pertiwi, istrinya itu, “ Dia sudah lama meninggal mas, sama seperti saya, penyakit tua, ditambah lagi keserakahan anak-anak yang telah dilahirkan dari rahimnya, mereka sangat kurang ajar, semoga kematiannya membuatnya enteng, siapa yang kuat hidup dengan anak-anak yang seperti itu, dan begitulah, dia meninggal karena tak tahan meilhat kenakalan anak-anaknya sendiri”. Mendadak matanya merah, wajahnya menampakkan kemarahan yang sangat, “Agh sudahlah mas, tak usah dikenang jika itu tak lagi menyenangkan bagi sampean”, buru-buru saya ingin mengakhiri percakapan soal masa lalunya itu.
Saya ingat, sebentar lagi dia berusia 63 tahun, ada keinginan memberi dia kejutan, tapi tak tahu, kejutan apa yang pantas diusia senja, dengan kondisi kesehatan seperti itu, apa sampean ada saran?




