I learn it From You
April 21, 08 by admin
Meminjan bahasa Pramoedya Ananta Toer, manusia boleh pandai setinggi langit, namun ketika ia tidak menulis, ia akan hilang ditelan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Memang, tidaklah mudah bagi sebagian orang termasuk saya, boleh saja orang menyarankan untuk menulis apa saja, tentang keseharian yang tidak istimewa, tentang remeh temeh kesibukan, atau tentang letupan emosi sesaat, toh ini adalah ruang pribadi untuk menyimpan sebagian ingatan yang semakin beranjak pikun.
Saya bukan orang yang mahir berkontempelasi dengan rerimbunan jagad ide dan menjadikannya sesuatu yang bemutu.
“Yang penting mulai mas, urusan hasil itu selanjutnya”, akhirnya saya sampai pada satu titik, menulis dan ngeblog ternyata butuh energi, sedikit imajinasi dan bukan hanya sekedar bikin account atau sekedar njeplak lalu tercatat.
Dan urusan akrobat dan jungkir balik kata, saya belajar dari sampean semua, terlebih soal bahasa yang ndakik-ndakik itu, dan sampean tahu ndak, saya melakukannya dengan blogwalking ke tempat sampean, wah ternyata melelahkan dan bikin keringetan, lantaran jumlah yang semakin bertambah serta benwit yang ngos-ngosan.
Agh, saya menulis saja hal yang biasa-biasa bukan yang melip-melip, “iya, mana mungkin otak cekak sampean itu bisa menghasilkan yang bagus mas?, banyak orang enggan menulis lantaran kemapanan identitas mereka, lah sampean itu mapan apa? mapan turu mas?”
“Good writing expresses a clear point, is tightly structured, grammatically and syntactically correct, substantive, and interesting”
Tekuklah lidahmu keatas sampai menyentuh langit-langit, pejamkan matamu sampai engkau hanya mampu melihat bayang-bayang, tutuplah pendengaranmu sampai engkau merasa tuli, dan mari kita bicara tentang keserakahan.
Karena ketidakadilan, ke-sembrono-an, penghinaan, pengkhianatan dan mungkin juga kesombongan dan embuh apa lagi, orang bisa saja marah, bahkan karena suatu hal yang bagi sebagian orang dianggap remeh dan 

Sering sudah sumpah serapah, janji terlewati tak terpenuhi, alangkah indah dunia yang tanpa sisa ini dipenuhi kejujuran, tak bisakah kita berbicara tanpa diikuti kata sumpah dan janji, atau malah kita sendiri yang sudah tidak pernah bisa percaya dengan kata-kata yang meluncur deras dari mulut kita sendiri.




