Semua ada di buku, barangkali ungkapan itu yang sering digunakan banyak orang untuk setidaknya sebagai modal awal melakukan sesuatu yang pada awalnya ia sama sekali tak tahu dan tak menguasai, beli buku yang dimaksud, sebanyak yang mampu dibeli, baca, baca, dan baca lagi, akhirnya kita akan mengetahui sesuatu.
Sepenuhnya tak salah, saya jadi ingat jupe, aktris Julia Peres ketika ingin menjadi politikus dengan mencalonkan diri sebagai Bupati Pacitan, salah satu daerah di Jawa Timur, ia akan baca buku dan mencari informasi dari internet untuk menjadi politikus, Jupe tak salah, tapi esensi yang sebenarnya dari politikus sebagai seorang Bupati barangkali tak akan ia dapatkan dari buku-buku yang dibelinya, bupati yang akrab dengan rakyat, pemimpin yang tak hanya berkeluh-kesah tentang dirinya, tapi seorang pemimpin yang menyediakan kedua telinga-nya lebar-lebar untuk rakyat dan energi penuh untuk memperjuangkan nasib rakyat serta sederet tetek bengek kepemimpinan barangkali tak ada dalam buku-buku.
Seorang teman saya yang menjadi wakil rakyat di daerah setali tiga uang dengan Jupe, setelah sukses menjadi wakil rakyat dari partai tertentu ia membeli setumpuk buku-buku tentang perundang-undangan, demokrasi dan entah tentang topik apalagi, yang jelas, semenjak kepindahannya di rumah barunya, satu almari besar yang juga terkesan baru penuh sesak dengan tumupukan buku tertata rapi, saya tak penah menanyakannya, apa ia membaca atau ia sekarang punya kegemaran baru sebagai kolektor buku, barangkali juga ia ingin terkesan pintar kepada setiap tamu yang berkunjung kerumahnya, saya tak tahu, tapi sejauh yang saya tahu sejak saya mengenalnya sebagai seorang pengusaha, ia sama sekali tak gemar membaca.
Saya ingat juga seorang alim yang pernah menyampaikan sesuatu yang barangkali patut kita renungkan, “sekarang, banyak kitab ditulis, tapi semakin sedikit yang mengamalkan isi kitab, kita semakin kehilangan panutan”, demikian kurang lebih ia bertutur yang sebenarnya dalam bahasa Jawa halus. Gimana menurut sampeyan?.



