Untuk Teman

by admin on February 4, 2011

Saya, barangkali saja, tak akan mirip dengan Es Ito yang tengah menyemangati Tim Garuda ketika menghadapi Malaysia dalam laga AFF kemarin, yang menyuruh Firman Utina berlari, dan memompa semangat Irfan Bachdim, Oto serta El Locco untuk terus bermain bola tanpa beban harus menang.

Tapi yang mirip dari sini adalah sebuah perjuangan, sebuah masa depan, yang kau tahu, menurut teman perempuan yang duduk disebelahmu itu, dengan bahasa ke-Inggris-inggris-an dan sejenak melupakan bahasa tutur jawa yang mengesankan, “worth it nggak sih?“, dan ternyata tak ada yang sia-sia untuk masa depan, seperti sebuah petatah-petitih, masa depan adalah tanah liat dan masa lalu adalah batu cadas nan pejal.

Kami, yang semoga saja selalu kau anggap sebagai temanmu, barangkali adalah batu cadas itu, enggan beranjak dari kuadran siksa, yang secara diam-diam akan kami yakini sebagai surga, karena hanya ini yang bisa didapat, hanya ini yang bisa direngkuh, hanya news letter yang dapat kami baca, yang terasa membaca sebuah kutukan daripada sebuah pencerahan, dan dengan sekuat upaya mencoba menyungging senyuman meski kami berada dalam tindas yang entah sampai kapan.

Jika ada hal yang patut kami ucapakan sebagai wujud terima kasih adalah kau telah mampu menunjukkan, masih ada surga di tengah cengkraman seven to five, jam kerja yang kurang ajar dan layaknya neraka, meski surga itu sesempit ukuran ruangan karaoke, tak panjang tak lebar, tapi cukup untuk berteriak menampung kata-kata makian dan sejenak goyang pantat, jumpin” jack flash!, hey…. ada sekelumit surga dalam temaram dan hingar bingar.

Oh…ya… ada satu lagi, yang pada kenyataannya bagi orang lain adalah aib, tapi kau tak memyembunyikan hal itu layaknya bau busuk yang perlu disembunyikan dalam gundukan tanah, ada kejujuran yang lugu, kejujuran yang tak menuntut pujian, dari minuman berkadar alkohol sedang dengan cap bintang barangkali ujaran tentang kejujuran itu kau dapatkan, kemungkinan ini yang membedakanmu dengan orang-orang disekitarmu, nampak baik di permukaan tapi menikung dibelakang, dan dengan kata sepakat kita menyebut mereka sebagai “hanya itulah yang mampu dilakukan kaum pecundang”.

Dan jika ada hal yang tak boleh kau lupakan adalah kita pernah bersama didalamnya, meski sekilas dalam sejarah buruk, bukan dalam sejarah kemenangan yang gilang gemilang layaknya cerita epos yang membawa berita kemenangan setelah pulang dari medan perang. Kita pernah menjejak bumi dalam koordinat yang sama, meski bagimu itu terasa menyesakkan dan membangkitkanmu dari kesadaran, berjuang untuk sebuah masa depan dengan harapan, dan masa depan, seperti yang kau sadari itu, hanya diperuntukkan bagi mereka yang setia pada harapan dan cita-cita.

Selamat jalan kawan, semoga sukses. jika masa depan dengan cita-cita yang kau gambarkan sama dengan cita-cita dan harapan kita, kami butuh doa-mu berlebih, bukankah kaum cemen layaknya trondolo tak berkesudahan ini yang butuh do’a dan sokongan?, agar kita bisa berjumpa di rumah harapan yang sama, sebuah rumah yang penuh dengan cita-cita dan suara-suara tanpa beban.

Jika ditempat ini, dimana kita semua merasakan, sebuah tempat yang semakin sulit penuh aturan hanya untuk sekedar memilih dimana kita harus pipis dan nge-pup menemukan seorang pengganti yang duduk di kursi yang dulu pernah kau tempati, tapi keseharian-mu tak akan tergantikan, seorang Surokarto Hadiningrat yang merdeka dengan pilihan hidup, yang menyukai Jason Marz sekaligus Solo balapan, kini, kau tengah balapan dengan cita-cita dan harapanmu.

Semoga sukses teman, kawan baik, teman guneman di pagi hari dan tak bosan untuk mengulanginya di sore hari, dan semoga malam tak menghalangi kita untuk setiap keinginan bernostalgia dan melakukan perjumpaan ulang di hari mendatang.

Leave a Comment

Previous post:

Next post: