Emak, Di hari-hari inilah aku mengingat-mu, entah kenapa, barangkali saja, karena di bulan yang kata mereka mulia, harapan satu-satunya yang tersisa bisa jadi adalah menagih janji Tuhan yang konon tak pernah ingkar.
Ingatan itu tantu saja tak mudah terhapus dari sekian banyak hal-hal yang mesti kuingat, akhirnya saya tahu mak, ternyata menjadi laki-laki dewasa itu benar-benar tak enak, barangkali saja hal itulah yang membawa aku, cucu laki-lakimu ini kembali mengingat laku genial kekanak-kanakan yang tak akan pernah terulang kembali, Ramadhan, libur sekolah panjang, tak pernah pulang dari langgar kampung dan tak ketinggalan mercon seukuran sapu lidi, dan dari mercon merang itulah ingatan itu ditarik ulang.
Bukan petasan kecil yang membekas diingatan, tapi darimana saya mendapatkan mercon itu yang terkadang membuat saya senyum, melamun mengenang, dan tentu saja diam dengan kesedihan, ya mak, saya mendapatkan mercon dari uang recehan yang aku ambil di deretan paling atas rak piring yang terbuat dari kayu yang sudah usang itu, tentu saja tanpa seijinmu, dan yang menyedihkan adalah bagaimana pengakuan sekian banyak cucu laki-lakimu yang saling berpandangan dengan penuh keyakinan tahu sama tahu dan yang tak pernah mengaku mengambilnya.
Kenangan Ramadhan yang terus terulang entah sampai kapan mak, dan di setiap Ramadhan itulah, ingatan akan wajah tua-mu itu terasa begitu jelas, terlebih di hari-hari mendekati lebaran dengan keadaan kami sekarang ini, cucu laki-lakimu yang sekarang berbeda dan berada, seandainya Ramadhan dan lebaran beberapa tahun terakhir ini kau hadir di tengah-tengah keluarga besar ini mak, kita semua akan sepakat untuk membuat kejutan untukmu, sebuah pengakuan yang barangkali datang terlambat, tentang pencuri kecil uang receh dalam kaleng rak piring tuamu, bukan setan gundul yang acapkali emak sumpah-sumpah, terasa benar lebaran tanpamu mak, tak lagi kami melihat perempuan di antara keluarga besar ini yang mengenakan kebaya jawa lengkap sepertimu di setiap lebaran.
Barangkali momen ramadhan kali ini lebih tepat mak, bukan karena ramadhan yang lain tak berarti mendalam bagi kami, diam-diam dalam hati, saya menagih janji Tuhan seraya mendaras doa, semoga Tuhan menempatkanmu dalam taman surga-Nya, dan disana kita bersua, dan emak tak perlu khawatir, tak ada maling yang menghuni surga kan mak?.
Nb : gambar diambil dari “Mak, aku sayang emak”, nggak tahu mak-nya siapa!





{ 2 comments… read them below or add one }
Keren mas…. Salute
lha kok fotonya keren