Apa yang disuguhkan Gitanjali-nya Rabindranath Tagore?, saya sulit memahami puisi sebagai bentuk universal dari pencapaian estetika nilai, dibuat membaca buku biasa, lancar dan tak termaknai.
Gitanjali terjemahan dari penerbit Liris itu, yang disebut-sebut sebagai karya terbaik Rabindranath pada akhirnya tak menyentuh, meski Gitanjali bicara soal prosa puisi, mungkin ini yang disebut-sebut sebagai alih bahasa yang payah dan kesewenangan editor menggunting teks buku aslinya, transliterasi tergesa,yang hanya berorientasi pada pencarian makna mirip terhadap bahasa tujuan, sementara saya yang tak tahu menahu tentang bahasa Bengali dan menggantungkan sepenuhnya pada buku terjemahan.
Gitanjali bicara soal prosa puisi, yang tertangkap oleh imajinasi saya adalah sebuah buku penuh dengan kalimat mendayu tentang pengharapan, kesunyian dan mungkin tentang kesedihan akan cinta itu sendiri, seperti yang terkutip dalam buku itu, Gitanjoli yang mengungkap pandangan tentang cinta, kehidupan, serta alam manusia, sebuah nilai tertinggi dari esensi cinta dan kehidupan anak manusia melalui metafora bunga, nyanyian burung, awan, matahari hingga rumput liar.
Siapa yang memberi kata pengantar dari halaman v sampai dengan halaman xvi tak disebut jelas, apa itu adalah kata pengantar dari Gitanjali ataukah orang lain? Serasa ia bicara soal Rabindranath oleh orang lain tak bernama dan berinisial, sehingga menejlaskan kepada pembaca bahwa kata pengantar itu bukan dari pengarang atau dari pengarang itu sendiri.
“Kelesuan ada di hatimu dan kantuk masih ada di matamu” (kutipan dari Gitanjali), seperti kantuk saya yang tak tertahankan ketika membaca buku itu.





{ 1 comment… read it below or add one }
puisi adalah bahasa kalbu, maka etika dalam membaca harus menggunakan bahasa kalbu