Saya tak punya alasan jelas kenapa saya begitu menyukai membaca tulisan-tulisan esai, dan sudah beberapa bulan terakhir ini intensitas membacai tulisan-tulisan AS Laksana (mas Sulak) saya lakukan rutin, karena harian besar itu memuat tulisannya setiap minggunya, saya tak mengenalnya langsung, tapi setiap minggu pagi saya acapkali dibuat menunggu, kira-kira apa yang ia tulis minggu ini, rasa yang sama barangkali ketika setiap kali saya menunggu catatan pinggir-nya Goenawan Mohamad itu.
Saya tak punya latar belakang menulis, hanya sekedar menulis saja, buat saya, bisa menulis ajeg mungkin sudah menjadi sesuatu yang luar biasa.
Alih-alih ingin bisa menulis dan tidak ingin kehilangan tips menulis dari AS Laksana, seringkali saya mengulang-ulang membaca beberapa poin tips menulis AS Laksana yang telah di dibuat untuk mudah dimengerti oleh musafir muda disini.
Sebagai pemula, seringkali saya mengaduk-aduk gaya menulis beberapa penulis yang saya kagumi, mengolahnya gaya sedemikian rupa, bahkan untuk sebuah topik yang sederhana sekalipun saya meniru, dan menciptakan rasa yang setidaknya agak berbeda dengan gaya penulis yang saya tiru itu, meskipun yang sering terjadi adalah gagal total, dan style menulis saya yang tidak ngalor dan tidak juga ngidul, lebih terkesan ngawur.
Minggu ini, saya menjumpai tulisan AS Laksana, kali ini mengutip penyair Inggris T.S Eliot dan sederet keterangan, seperti berikut ini : ”Penyair buruk (belum matang) melakukan peniruan, penyair baik (matang) melakukan pencurian”, Penulis yang baik mencuri gaya dan berbagai strategi literer dari penulis-penulis lain yang ia kagumi dan mengolahnya menjadi miliknya sendiri. Dan pencuri yang piawai tidak akan pernah memamerkan barang curiannya.
Ah.. mungkin saya pencuri, tapi saya belum menjadi penulis yang baik apalagi menjadi maling yang piawai.




{ 1 comment… read it below or add one }
katanya sih pandai atau tidak cuma masalah waktu aja