Saya melihatnya beberapa kali, pertama semenjak kemunculaannya di koran harian, tertata rapi di rak sebuah toko buku besar, tak segera saya membelinya, selain pertimbangan ongkos, saya pikir, isinya tak akan jauh dari apa yang saya baca cepat dan lompat-lompat di catatan pinggirnya di media online itu.
Tak ada niat membuat resensi sebuah buku, “Tuhan dan hal-hal yang tak selesai”, selain tak cukup berkemampuan, sayapun tak cukup referensi, dan lagi ia bicara soal Tuhan, menghadirkan yang tak tersentuh agar bisa membicarakan segala persoalan, semakin lengkaplah alasan saya untuk tidak mengatakan apapun soal buku itu, dan seperti petatah petitih bijak itu, religiusitas setidaknya adalah ruang atau bilik yang paling pribadi.
Baru beberapa bulan kemarin saya membelinya, ketika ia berdiskon sekian persen, jauh turun harga dibanding semenjak awal ia tertata rapi di rak buku itu, saya membelinya dengan niat segera membacai-nya, dan sesegera itu pula Tuhan mengirimkam kemalasan berlipat yang jauh dari biasanya untuk menjamahnya, beberapa minggu kemudian saya baru menyelesaikannya, membaca Tuhan adalah membaca hal yang tak selesai, seperti membaca buku tipis itu, beberapa hari menjadi beberapa minggu.
Ah… saya rasa, saya memang terlambat membaca persoalan ke-Tuhanan.




{ 4 comments… read them below or add one }
jadi dapat apa dari buku nya mas??
malas itu sebuah labirin
saya juga punya buku itu. bagus banget! khas goenawan mohamad lah..
salam kenal yah!
Kesimpulannya, rekomended or not?