Sebelumnya memang di dahului dengan beberapa percakapan panjang, sebelum diakhiri dengan sebuah percakapan singkat, “Saya memang telah melewati masa-masa itu”.
Karena telah melewati masa dan waktu, ia bisa memaklumi keadaan, demikianlah saya yang idealis, yang hanya bisa membedakan benar salah, adil dan tidak adil, baik dan jahat, bermoral dan bejat. “Tapi hidup tak selalu bisa dipilah dengan garis yang jelas, kebenaran bisa selalu dikompromikan, dan itu sangat tergantung dari cara mengkrompomikannya, jika salah dalam berkompromi, kebenaran bisa jadi salah dan demikian sebaliknya” ia menambahkan.
“Idealis perlu untuk saat-saat tertentu, tapi sekarang kita bicara soal kebutuhan, dan kita mesti cerdik, kita harus pragmatis, menyesuaikan keadaan, sengaja sedikit salah tentu ada pemakluman dan ampunan”.
Tak bermaksud memperpanjang percakapan, saya hanya bisa bertanya pada diri sendiri. Kalau demikian adanya, apa sebenarnya yang diajarkan ajaran religius, moral dan sederet petuah dari orang tua?, dan tak bermaksud untuk segera menyimpulkan, untuk sementara ini, semua memang sebatas pengetahuan, belum menjadi sebuah petunjuk, karena ketika sebuah ketidak adilan itu terjadi tepat di depan hidungmu, kebanyakan orang tua akan bilang, “sudahlah, tak perlu kau ikut campur terlalu jauh, dan yang penting kau tidak berlaku tindak demikian”.





{ 2 comments… read them below or add one }
hehehe ini pergulatan semua orang ketika sedang terdesak, yg sering terjadi kemudian permisif kalo ga mau dibilang cuek pada ajaran yg sebenarnya
Iya maksud ortu buat mawas diri barangkali ya, semua tingkah laku jadi pertanggung jawaban kita masing2