Total 444 halaman, termasuk profil sang penulis, dan saya baru berada di lembar ke seratus sekian.
Membaca Perahu kertas Dee terasa jauh berbeda dengan Dee dibeberapa novelnya terdahulu, sampai di lembar ke delapan puluh itu saya memcoba mencari-cari apa yang menarik dan membuat saya menemukan alasan kuat untuk melanjutkan ke lembar-lembar berikutnya, sampai di lembar itu saya tak juga menemukannya.
Ngepop, meremaja, ABG atau detail yang membuat saya tak menemukan antiklimaks dengan deretan kata pilihan yang membentuk kalimat yang pada akhirnya akan membuat saya mengulang-ngulang kalimat tersebut dan mencoba memahami, seperti Dee dalam Rectoverso yang beda, filosofi kopi yang menyadarkan, di perahu ketas ini Hampir tanpa kejutan, datar, dan ada dalam jangkauan kata kira-kira. Hanya beberapa komentar dari testimoni beberapa orang yang ada di lembar awal buku itu yang membuat saya bertahan untuk meneruskannya, sebelum saya memutuskan untuk menghentikannya pada lembar ke seratus sekian.
Sepenuhnya ini adalah pendapat pribadi yang bisa jadi salah karena baru di lembar ke delapan puluh dan membuat saya melirik ke diri sendiri, apakah jenis ini yang tidak saya sukai?.




{ 4 comments… read them below or add one }
sampek sekarang aku belum baca satu pun bukunya Dee
Saya malah belum baca satupun bukunya Dee. saya juga tidak tau ada novel itu. saya kurang ngerti dengan novel, dan tidak mengikuti novel. jadi ya kurangpaham. hehe…
terus semangat dan salam sukses selalu…
Iklan Gratis
mau juga downk.. makasih infonya bos.
sama dengan kang hedi. saya juga belum satupun membaca karya dee. nampaknya pram, sga, remysylado, dan romo mangun masih terlalu kuat pengaruhnya di saya.