Terlambat?

by admin on August 8, 2009

Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles

Saya mendapatkan baris kalimat itu dari sebuah tetralogi yang saya yakin sampaen semua telah jauh mengetahui bertahun-tahun yang lalu, ia berada di halaman terakhir di buku akhir tetralogi Buru, Rumah Kaca.

Posting ini tidak akan membicarakan isi tetralogi itu, karena bagaimanapun apa yang saya baca dari sana yang baru kemarin saya menyelesaikannya itu, jauh berlebih dari banyak hal dari pada isi posting yang mereview isi ke empat buku itu, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah kaca. Inipun sejauh yang saya tahu.

Saya mendengar pertama kali nama Pramoedya Ananta Toer itu dari seorang teman, itupun hanya sebuah kebetulan saja ketika saya kuliah dan dolan ke tempat kostnya di Surabaya, Diantara tumpukan kertas fotokopian yang selalu teknik itu saya menemukan sebuah buku yang lain, ya, buku kusam Bumi Manusia.

Tidak tiba-tiba tertarik, karena memang saya tidak suka membaca novel, Bumi manusia awalnya saya menganggapnya demikian. Saya mulai membacanya baru diakhir tahun 2007 kemarin, setelah ngeblog dan banyak menemukan tulisan soal Pak Pram dan sepak terjangnya di dunia sastra nasional dan juga Internasional.

Membaca “1000 wajah Pram dalam kata dan sketsa” setidaknya membuktikan bagaimana Promedya di mata sastrawan lain, tidak ada kata lain bagi saya yang baru mengenal dan membaca beberapa karyanya, sungguh luar biasa.

Ah… entah terlambat entah nyesel entah apa, tapi yang jelas saya mengagumi Pak Pram kemudian setelah beliau tiada, saya memburu dan mengoleksi beberapa dari karyanya, hampir semua terbitan Lentera Dipantara karena memang saya baru menyadarinya dan baru memburu yang mudah dan tersedia di toko buku terdekat.

Membaca karyanya, serasa kembali menyeret ingatan ke peristiwa sejarah sendiri, tentang negeri yang begitu amat dicintainya dengan sungguh-sungguh ditengah manusia sekarang yang sekejap mengaku mencintai Indonesia tapi ia sesungguhnya sekedar menyelamatkan dirinya sendiri.

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai. (Magda Peters, 233)

{ 2 comments… read them below or add one }

1 hedi August 8, 2009 at 10:14 am

Bersyukurlah sampeyan akhirnya seneng karya dia, konon katanya siapapun yg baca bukunya untuk pertama kali akan menjadikannya favorite author.

Saya sendiri belum sekalipun baca (karena jg agak menunda2 kesempatan kalo buat baca buku kelas novel) walau ide itu dah berseliweran sejak orde baru runtuh.

2 pututik August 9, 2009 at 11:46 pm

hmmm, saya kok masih sulit ya menikmati tulisan begitu… mungkin saya yang bolot

Leave a Comment

Previous post:

Next post: