Pertemuan saya dengan seorang teman lama itu bukannya tidak disengaja, lewat sebuah pesan singkat, kamipun berjanji untuk bertemu.
Saya tahu dari beberapa teman lain, kabarnya ia kini telah menjadi calon jadi legislatif, wakil rakyat yang terhormat, tapi bukan pusat, ia wakil kaum proletar di tingkat Kabupaten kota tempat tinggal saya.
Tentu saja bukan karena urusan politik saya menemuinya, tapi berhubung teman lama tak pernah ketemu hampir dua tahun terakhir dan lagi memang saya ada keperluan berdagang dengannya.
Seperti yang sudah saya duga, percakapan soal dagang itu cukup singkat, selebihnya ia lebih menyukai ngobrol soal politik, current issue di seputaran pekerjaan barunya sebagai wakil rakyat yang katanya akan di lantik bulan Agustus depan.
Selama percakapan soal politik dan segala hal tentang kebijakan lokal yang banyak ia kritisi dari pemerintahan sebelumnya itu, saya hanya diam, hanya menggarami apa yang ia katakan, karena di awal ia terkesan hanya membenarkan segala sikap, bagaimana proses ia sampai terpilih karena memenuhi jumlah pemilih, dan ia memberlakukan proses pemilihannya kemarin sebagimana layaknya hukum dagang, “Kan saya beli putus suara mereka, seharusnya mereka mengerti dan sadar, tak layak mereka menuntut dan menagih janji saya kemarin, karena tidak berjanjipun, itu kan tugas kita sebagai wakil rakyat, saya kemarin ibarat membeli tiket dari mereka, dan sekarang tiket sudah saya bawa pergi, bukankah mereka sudah tidak punya hak untuk mempertanyakannya kembali, sampai kiamat, seorang calon legislatif tak bakal jadi tanpa uang, kecuali mereka adalah seorah tokoh yang benar-benar tokoh”.
Banyak hal yang ia bicarakan, dari undang-undang yang memangsenagaja di buat multi interpretasi, gaji DPRD yang ngikut pemerintah daerah, kebijakan eksekutif yang memang benar-benar tidak bisa dikontrol oleh dewan terhormat sebagai wakil rakyat karena memang sudah dibikin begitu dan seterusnya.
Terakhir ia bilang, “bukankah salah rakyat sendiri, mau-maunya menjual suara mereka, dan kami mmebelinya layaknya hukum dagang, bukankah sudah tak ada janji pada diri kami atas mereka?”.




{ 2 comments… read them below or add one }
Betul, mas. Kebobrokan terjadi karena ada kegiatan massal, seperti budaya korupsi kita.
Mengutip omongan dari blog orang, “Para wakil rakyat gak pernah mau naik pangkat jadi rakyat. Pengennya jadi wakil terus.”
Apa menariknya jadi wakil (no 2)?