Did I’m Right?

by admin on July 18, 2009

Ia bercerita, dan dari ceritanya itu ia sungguh-sungguh mengharapkan sebuah jawaban atas kebingungannya.

Cukup singkat apa yang diceritakan seorang teman kemarin, soal uang, keyakinan warisan yang di anutnya, dan tentu sebentuk kebingungan apa yang mesti dia lakukan.

Ia bertutur kemarin sore, soal pekerjaannya yang telah di gelutinya selama kurang lebih 15 tahun terakhir sebagai seorang net audit di salah satu hotel berbintang, dia tidak sendirian berada di bagian itu, tapi ada lagi seorang rekannya, seorang pria yang lain, awalnya, teman sekantor dan seprofesinya itu bekerja baik-baik saja, sampai pada akhirnya kesulitan ekonomi keluarga membuatnya nekad, karena mengetahui celah keuangan ia sedikit-sedkit mengambil yang bukan jatahnya.

Tentu saja ia sadar, teman saya itu mengetahui persis apa yang dilakukan teman seruangannya itu, tapi ia tidaklah bodoh, ia pun dikasih beberapa, tak kuasa menolak iapun menerima pemberian teman sekantornya itu, tapi ia enggan menggunakan uang yang bukan haknya. Teman saya itupun mengumpulkan pemberian haram itu di laci yang lain.

Usia, adalah sesuatu yang tidak bisa di korupsi barang secuil, tanpa kabar sakit, ia meninggal, tentu teman-temannya merasa kehilangan, dan seorang teman saya itu tidak hanya merasa kehilangan, ia sekaligus merasa kebingungan dengan setumpuk rupiah yang berada di laci meja kerjanya hasil pemberian cuma-cuma itu.

Tak tahu apa yang mesti ia lakukan, sewaktu melayat dengan beberapa rekan sekantor, diam-diam ia menemui istri rekannya yang sedang bersedih kehilangan seorang suami dengan menanggung dua orang anak itu, dan tentu ia membawa sejumlah uang yang disimpannya di laci dalam sebungkus kertas berwarna coklat.

Dia bilang, “Mbak, terimalah ini, ini uang titipan suami mbak ke saya selama beberapa waktu lalu”, dan tanpa curiga, istri temannya itu menerima sebungkus kertas coklat dengan sepatah ucapan, “terima kasih mas”.

Sore itu, saya menyadari, sambil sesekali menghisap rokok mildnya dalam-dalam, teman saya itu meminta jawaban, setidaknya sebuah pembenaran atas tindakannya, apa yang ia lakukan itu sudah sepatutnya. Karena ketidaktahuan saya, sayapun hanya menemani menghisap sebatang rokok dalam-dalam.

Leave a Comment

Previous post:

Next post: