Tekuklah lidahmu keatas, kelangit-langit, tak akan ada kata yang bisa kau ucap, lidahmu terasa kelu, dan begitulah yang akan kau rasakan ketika sakaratul maut itu tiba.
Ajaran itu memberikan petunjuk, karenanya ia mengharuskan kepada siapapun yang mempercayainya untuk selalu mengucapkannya dengan posisi seperti itu, tak tanggung-tanggung, sebanyak seribu kali di setiap waktu yang telah ditetapkan, tak akan ada suara terdengar, karena ia akan melatih seluruh hati, jiwa, darah dan di setiap tarikan nafasmu untuk selalu menyebut nama Tuhanmu itu.
Kematian memang sesuatu yang sulit dipahami tapi sekaligus lazim terjadi, ia adalah sesuatu yang mutlak dan pasti bagi yang hidup. terkadang ia memberikan isyarat dan sekedar pertanda bagi siapa saja untuk bersiap dengan sebuah keputusan yang tak bisa dikompromikan, tak bisa diminta untuk ditunda barang sejenak, agar bisa memberikan sepatah dua patah pesan, atau sekedar memberikan kesaksian tentang sebuah pertaubatan.
Perbekalan adalah urusan masing-masing, yang bisa ditinggalkan oleh yang hidup adalah mendaras do’a, menghimpun segala kekuatan untuk meyakini, kita ditinggalkan karena memang dianggap mampu memikul segala beban hidup yang kian tak mengenal batas baik dan buruk.
Bersedih, karena begitu cepat dan tanpa pesan, menyesal, karena tak sesuatupun yang bisa dilakukan untuk sekedar membuat hatimu tenang, bukannya senang, karena sampai di penghujung nafas sekalipun, tak ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk membuatmu senang, dan air mata tak akan mampu membuat semuanya cukup.
Selalu mengingatmu di setiap tarikan nafas yang kau wariskan, dan di setiap langkah, Do’a kami selalu untukmu.




