Berhentilah sejenak, tak ada yang perlu dikhawatirkan, semua memang sedang menunggumu untuk mengerti, pun demikian dengan waktu, ia bersedia bersabar untuk tidak berputar sejanak menunggumu benar-benar mengerti dan berfikir kembali tentang semuanya.
Segala peristiwa harus diakui, kamulah pencerita yang baik atas semuanya, dan aku memang hanya mampu merekam semuanya samar dalam ingatan. Sederet peristiwa dan persoalan tak seharusnya begitu saja kita sederhanakan, ia adalah sebuah proses yang tertib, berurutan, ada kronologi dari setiap kejadian disana.
“Apa salahku?”, tiba-tiba saja kau menyodorkan sebuah pertanyaan yang kamu tahu sendiri apa jawabnya, siapa yang salah dan yang benar tak perlu harus selalu dimunculkan, bukankah kita sudah bersepakat dengan hal ini, bukan harus ditunjukkan, seharusnya kita, tak ada aku dan kamu lagi, dengan kesadaran yang sepenuh-penuhnya mengakui, segala bentuk kesalahan itu kitalah yang melahirkannya bukan?.
Bukankah segala bentuk penjelasan setelah semua terjadi dengan keputusan sepihak adalah bentuk lain dari pembenaran?, dan lagi, aku berdiri dengan pendirian semula, mungkin saja ego, begitu kamu menyebutnya. Tapi seperti itulah adanya, mari belajar dari peristiwa, meski semua tak lagi sama.




