Saya sedang lupa, sejauh ingatan, saya pernah menemukannya dari gunawan muhammad, ia menulis soal masjid dan sejarah, masjid yang kehilangan sejarah atau ia memang merasa tak pantas punya sejarah.
Mungkin saja maksud dari sedikit kalimat yang saya ingat itu punya maksud lain, tapi apa yang akan saya tuliskan disini soal masjid memang sudah banyak ditulis oleh teman-teman blogger lain.
Soal masjid yang menggunakan pengeras suara entah berapa kilowatt, atau benar ia sedang berteriak untuk diingat kembali oleh manusia modern yang selalu sibuk dan bersicepat dengan waktu daripada mendengar pengeras suara yang super keras itu setiap harinya, masjid dengan pengeras suara itu ingin di tengok, dilihat, dan mungkin ia menginkan kembali sejarahnya, mengembalikannya seperti dulu, sebagai pusat kegiatan dari masyarakat kampung kecil sekitar masjid itu berada.
Banyak sudah Masjid besar dulunya adalah sebuah surau kecil, mengingat kata surau, saya membayangkan sebuah bangunan kecil, asri, teduh, kanan kiri dan belakang adalah hamparan tanah luas, bisa jadi hamparan sawah atau setidaknya perkebunan warga kampung, jauh dari hunian penduduk pemilik surau itu, dengan penguat suara yang tidak begitu besar, tenang sebagai sebuah tempat peribadatan, sebuah tempat yang cukup sunyi untuk mengingat segala dosa dan perbuatan, khulwah ataupun uzlah.
Sekarang, banyak tempat ibadah itu dibangun dengan megah, setidaknya tidak ada masjid dengan bangunan apa adanya, lantai marmer, lampu penghias yang megah, menara yang menjulang tinggi dengan mengusung pengeras suara yang super kencang radius sekian kilometer.
Masyarakat sekitar bukannya merasa tenang dengan tempat tinggal yang tidak jauh dari masjid itu, mereka malah gelisah, tak bisa berisitirahat dengan tenang apalagi di akhir pekan, semakin banyak kegiatan di masjid itu dengan pengeras suara yang disetel maksimum dengan tujuan syiar. Pada dasarnya masyarakat lingkungan sekitar tak mempedulikannya, setuju-setuju saja, senang dengan banyaknya kegiatan masjid dengan nuansa Islam yang kental, tapi penggunaan pengeras suara yang terlalu berlebihan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
Atas nama syiar, haruskah dengan menggunakan pengeras suara berkekuatan maksimum?




{ 2 comments… read them below or add one }
sepengetahuanku ndak seperti itu… kalau diberi pengeras suara sampai maxy, bukankah akan mengganggu lingkungan sekitar masjid? sebenarnya tujuannya adalah waktu adzan dikumandangkan, semua umat muslim mendengar, dan istirahat dari aktivitasnya untuk menunaikan shalat di masjid.. tapi, sekarang ini, bangunan masjid sudah banyak di temui. dalam satu desa setidaknya ada 1 atau dua masjid.. jadi tidaklah perlu pengeras suara sampai maxy…
masalahnya hati kebanyakan manusia sekarang sudah mulai kehilangan pendengarannya.