Reading a Book

by admin on June 10, 2009

Berapa banyak buku yang saya baca?

Jika pertanyaan itu diajukan beberapa tahun lalu seharusnya jawaban saya akan cukup membuat malu, meskipun terkadang saya cukup ignoring dengan buku-buku, “ndak hobi baca je….”

Kesadaran yang terlambat, atau memang blog yang membuat sebagian blogger malas seperti saya terpaksa untuk membaca, bukan lantas menjiplaknya di blog pribadi, tetapi setidaknya tidak keterlaluan saat memberi komentar lantaran tidak tahu arti sebuah kata atau apa yang sedang dibahas oleh seorang teman blogger lain ketika ia mreview sebuah buku.

Mendadak kegemaran membeli buku saya meningkat, tapi tidak dengan dibarengi membaca, buku baru menumpuk tapi tidak terbaca, atau terbaca beberapa halaman depan dan langsung menuju halaman belakang, dan mencoba-coba merangkum isinya, keterlaluan, parah.

Saya sangat terkagum ketika membaca di blog seorang teman, bahwa seorang temannya membeli hampir 300 (tiga ratus) judul buku setiap bulan, entah apa profesinya saya ndak tahu, atau memang ia seorang profesional dibidang yang tak jauh dari buku, sehingga membeli ratusan judul buku setiap bulan adalah sebuah tuntutan pekerjaan, tapi bagaimana kalau ia hanya seorang yang hobi membaca, pemamah buku yang rakus?.

Menarik jika kita belajar dari para founding father negeri ini yang memang seorang hantu buku, begitu Muhidin M Dahlan menyebutnya, ketika ia menulis di balik buku harian di Jawa Pos tertanggal 7 Juni 2009 itu, tentang Inggit dan Klandestin Buku Banceuy, pembukaan tulisannya yang ia kutip dari seorang soekarno benar-benar sangat menggugah semangat membaca, berikut saya kutip pembukaan tulisan Muhidin M Dahlan itu, ‘Saya mencari consolation, hiburan hidup dari buku-buku. Saya membaca buku-buku. Saya meninggalkan alam ini, alam jasmaniah. Saya punya pikiran, saya punya mind terbang, meninggalkan alam kemiskinan ini, masuk di dalam ”world of the mind”; berjumpa dengan orang-orang besar, dan bicara dengan orang-orang besar, bertukar pikiran dengan orang-orang besar.” (Soekarno).

bukan soal bagaimana soekarno mencampakkan Inggit, seperti diahkir tulisannya, itu soal lain, Saya hanya ingin mengutip semangat membaca soekarno, seperti paparan di paragraph lain dari seorang Soekarno yang saya kutip dari sumber yang sama, ”Kalau buku yang saya anggap penting, saya baca dari A sampai Z. Dan yang penting-penting saya garis-bawahi. Saya tulisi dengan pendapat saya. Pendek kata saya orek-orek (corat-coret) setengah ajur (hancur) buku tersebut” .

Saya memang tak pernah sungguh-sungguh belajar dari sana.

Leave a Comment

Previous post:

Next post: