Jika ada sebuah pengakuan yang datang terlambat, itu adalah sebuah pengakuan tentang kehadiranmu dalam beberapa hari terakhir.
Kesibukan bisa saja menjadi pembenaran yang dipaksakan, tapi karena kehadiranmu itulah yang membuatku menjadi lebih sibuk dengan segala hal ihwal aktifitas keseharian, berkutat dengan email sepanjang siang, seperti seorang bodoh yang mengharapkan hujan itu akan datang di tengah siang yang terik dan membakar, ya, menunggui email, seolah email itu adalah saluran tercepat yang menghubungkan kita berdua.
Di ujung hari, kita tersadar, bahwa membicarakaannya tak akan membuat semua menjadi lebih baik-baik saja, tambah tak berujung, dan semakin tak jelas, sepertinya kita baru tersadar, dalam pembicaraan kita lupa, ego masing-masing ternyata lebih besar peranannya dari otak dan keinginan hati kita untuk benar-benar menyelesaikannya secara baik-baik.
Disini, aku menuliskannya, entahlah, mungkin aku merasa aman, tanpa aku bersusah payah, dan lebih dari semuanya, tanpa sepengetahuanmu.
Besok hari, bisakah kita mulai dengan baik-baik saja?, ada baiknya besok kita mulai dengan keterdiaman seharian, dan merasakan saja peganganmu yang tak jua kau lepaskan, pun demikian dengan diriku, enggan melepaskan peganganmu itu yang terasa semakin kuat saja.




{ 4 comments… read them below or add one }
Membicarakannya malah merusak suasana. Diam mungkin lebih enak, ya kan?
Pertanyaannya, mau diam sampai kapan?
Mendiamkan justru hanya membuatnya jadi bom waktu.
diam itu emas
hemm.. bahasanya dalem banget ya,,
apa enak mendiemkan?
n_n
mungkin cuma masalahw aktu aja ga tepat untuk dibicarakan,
salam kenal aja ya.