You Are What You Have

by admin on February 25, 2009

Saya rasa, ke arah sanalah segala tujuan itu ditentukan, dan saya pikir, itu adalah sebuah nilai yang sudah terlanjur menjadi ukuran di tengah masyarakat kita.

Anda adalah apa yang anda punyai, bisa jadi kesimpulan saya ini terlalu cepat, bahwa inti dari semua itu adalah sebuah penghalalan atas segala cara. Moral, ketulusan dan kejujuran tak lagi diperlukan dalam berproses ke arah yang mereka sebut dengan ukuran kesuksesan seseorang. Dan kondisi ini diperparah dengan penilain masyarakat dan orang tua yang tak jauh dari ukuran materi dengan mengesampingkan sebuah proses panjang. Tentu, saya memberikan ruang perbedaan pendapat yang luas dalam hal ini.

Saya, yang hanya seorang buruh di sebuah perusahaan asing sangat bisa melihat laku tindak sebagian besar dari mereka yang mengikat leher sesama saudara sendiri, apalagi kalu tidak demi nama baik yang mesti jaga dihadapan sang gubernemen, Pramoedya Ananta Toer dalam “Mereka Yang Dilumpuhkan” kalau ingatan saya dalam kewarasan, memberikan gambaran jelas, bagaimana gambaran sebenarnya manusia pribumi saat itu, fragmen Sueb si montir kaya memberikan detail dengan jelas, bahwa negeri ini sampai dengan saat ini masih sesak dipenuhi dengan manusia-manusia seperti itu, keuntungan pribadi, dan berbagai laku tindak penghianatan terhadap sesama lainnya. bagi saya itu sangat menjengkelkan.

Lewat Bumi Manusia, Pramoedya sepertinya semakin meneguhkan sebuah keyakinan dengan secuplik kalimat yang menggetarkan berikut ini.

“Jangan agungkan Eropa secara keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis. Dan satu yang tetap  Nak, abadi,  yang kolonial, dia selalu iblis”

Seni ludruk Jawa Timuran, acap kali juga menggambarkan cerita-cerita manusia-manusia seperti itu, dengan setting jaman imperialisme Belanda  dan dengan dialog khas Suroboyoan, mereka menyebutnya dengan sebutan “Londo Blangkonan” (Belanda menang ikut Belanda, Jawa menang ikut jawa), tentu saja saya baru menyadari, ternyata lakon ludruk jadul jawa timuran dengan lakon londo blangkonan itu saya temui wajah-wajahnya di jaman seperti ini, di depan saya di lokasi yang sama, di ruang dan waktu yang sekarang.

Ajaran religius yang disumpahinya sampai mampus itu sama gombalnya dengan bualan yang acap kali dilancarkannya. Entahlah,  itulah mereka, sebagian dari kita, dan bisa jadi kita sendiri berada didalamnya, dengan alih-alih profesionalisme, adalah bukan soal lagi melacurkan diri sebagai budak di tanah air sendiri, di negeri sediri dengan memperbudak lagi saudara sendiri dengan menghilangkan kejujuran, ketulusan dan saling menghormati.

Nampaknya, negeri ini masih dipenuhi orang-orang tua yang sakit dengan memandang keberhasilan anak adalah seberapa banyak materi yang diraih dan itu terus menerus ditularkan kepada anak yang akan dilahirkan dari negeri ini.

{ 5 comments… read them below or add one }

1 joanne February 26, 2009 at 6:53 pm

hmmm kayaknya ga orang tua aja deh…
calon pasangan hidup juga kebanyakan hanya melihat materi saja

2 hade February 27, 2009 at 2:42 am

Judul nya ini yang menginspirasi saya untuk selelu bilang : pikirkan apa yang anda miliki, bukan pikirkan apa yang TIDAK anda miliki.
Kalau hal ini dilakukan, maka akan tumbuh rasa syukur dan motivasi mencari “lebih” untuk disyukuri.

3 rizoa February 28, 2009 at 11:03 pm

seharusnya pemikiran yg cuman materi itu dihilangkan..:D

4 denologis March 2, 2009 at 9:02 am

i don’t have….

5 ispryono March 26, 2009 at 4:04 am

Kalo dah tau cara pikir ortu-ortu kite salah knape diikutin. Skrg kite sendiri maunya ape, brooow….?! Nyang salah katakan saja salah ga usah tuding sana-sini. Kite product dari masa-lalu, tapi ga usah ikutin nyang ga bener ntu. Masalahnya skrg berani kaga kite jadi oraNG MIskin, berani hidup susah ditengah moralisme yang carut-marut.

Leave a Comment

Previous post: … Priambodo in a Memoir

Next post: Ducks Crossing Road