… Priambodo in a Memoir

by admin on February 15, 2009

Ya, Priambodo, itulah nama belakangmu!

Membaca kembali Cerita Calon Arang nya Proemdaya, membawa ingatan saya kembali ke beberapa puluh tahun silam, suatu masa ketika saya berada di minggu-minggu pertama kelas 4 (empat) sebuah Sekolah Dasar di desa itu.

Tentu saja ingatan saya masih belum bisa melupakan, bagaimana seorang anak SD bisa melupakan sebuah nama lengkap, apalagi itu adalah nama lengkapnya sendiri, dulu sekali, kita tidak boleh masuk sekolah dasar jika kita tidak bisa menuliskan nama lengkap kita sendiri.

Mungkin karena kemalasan guru, setiap berganti buku absesi kehadiran, kita serigkali diminta menuliskan nama kita sendiri disana, dan seorang teman satu kempung beda RT itu hanya menuliskan nama depannya saja, Dedik, begitu dia hanya menulikan namanya di buku absensi baru itu.

Ya, Dedik, si pecinta bacaan komik daripada pelajaran sekolah, lebih suka menggambar tokoh-tokoh komik lokal yang digemarinya sewaktu pelajaran menggambar dari pada  umumnya kami yang suka menggambar pemandangan dengan dua gunung kembar dan sawah. Dedik yang selalu menjadi tumpuan kami sebagai sumber cerita komik-komik dan dongengan sewaktu lonceng istirahat berbunyi, Dedik sebuah pengganti  ketika tak semua dari kita memiliki televisi dengan satu channel itu.

Ketika guru baru di kelas empat itu memerintahkan untuk mengembalikan buku absensi, satu-satu dia menyebut nama kami dan kamipun mengacungkan tangan, dengan didahului dengan selarik kalimat, “Ibu pengin tahu nama kalian satu-satu, kan ada pepatah, tak kenal maka tak sayang” yang di kemudian hari, kami mengingatnya sebagai seorang guru yang galak dengan cara mengajar yang sedikit menjenuhkan dan membosankan.

Tibalah nama Dedik itu disebut, Dedikpun mengangkat sebelah tangan, dan guru perempuan kami itu bertanya lanjut “Siapa nama lengkapmu?”, dan tiba-tiba Dedikpun menjawil lengan saya dan mengarahkan pandangan sambil bertanya dengan suara sedikit keras dengan logat jawa kental tentunya, “Em… Jenengku sopo yo?”, sejurus kemudian kami sekelas pun tertawa, melihat kelucuan yang tengah terjadi. Sejurus kemudian, seorang teman menjawab “Dedik Priambodo bu”. dan tertawa kami pun reda dengan dilanjutkan bu guru itu memanggil nama berikutnya.

Singkatnya, kami memang duduk satu bangku, satu esde, dan satu kelas, yang memang hanya terdiri enam kelas di sekolah itu. Beda sekolah lanjutan tingkat pertama dan Lanjutan tingkat atas memisahkan kami, Sampai terdengar berita tentang kematiannya ketika saya berada di kelas dua sekolah lanjutan atas. Ya, dia meninggal karena salah pergaulan, akibat minuman keras campur-campur yang di tenggaknya bersama teman-teman satu sekolahnya, “SMA memang masa nakal-nakalnya” begitu yang kami dengar dari salah satu pelayat yang datang dan tidak secara tidak sengaja saya mendengar dari sebelahnya, mungkin benar kata mereka, pencarian jati diri, pengakuan status lingkungan dan sederet pengakuan lain dari teman yang memang sebenarnya tak kami perlukan.

Mendengar nama Empu Baradah, Weksirsa dan Mahisa Wadana, mengingatkan saya kembali pada cerita Dedik di waktu istirahat di Sekolah Dasar itu, ya… bagimana dia tahu nama Empu Baradah, Weksirsa, Mahisa Wadana tanpa Calon Arang dan Ratna Manggali apalagi Wedawati?, apa dia sudah membaca Cerita Calon Arang? atau dia hanya mendengar dari kata orang?. Ya, saya ingat betul dia begitu kentalnya dengan nama empu Baradah yang selalu dia sebut-sebut dalam ceritanya di sela-sela waktu istirahat kami.

Hm… anda saja saya dulu juga sudah membaca Cerita Calon Arangnya Pramoedya, saya akan menggodanya, Dedik Baradah lebih cocok daripada Dedik Priambodo.

Semoga engkau berada dalam damai disana Ded!.

{ 9 comments… read them below or add one }

1 yulius February 16, 2009 at 8:38 am

turut berbela sungkawa !

2 Fajarseraya February 16, 2009 at 3:24 pm

Hikz..
Tulisan b0s bagus

3 memble February 16, 2009 at 10:14 pm

manusia mati meninggalkan budi
namun kadang terlupa dengan bekal yang kan dibawa mati
hmmm … part of sad story

4 joanne February 18, 2009 at 5:30 am

ck ck…
jangan sampe salah pergaulan

5 Edi Psw February 20, 2009 at 6:12 am

Pergaulan remaja memang sering salah kaprah. Kalau nggak pintar-pintar menjaga diri, bisa berakibat fatal.

6 Deddy February 22, 2009 at 8:59 am

Jadi terkenang masa2 SD dulu. Saya juga suka mendongeng ke temen2 ketika jam istirahat…

7 zee February 25, 2009 at 1:55 am

Hmmm…. waktu SD saya hapal ga ya nama lengkap saya…. :)

8 Catra? February 25, 2009 at 8:25 pm

ternyata anak yang lugu waktu kecilnya bisa juga menjadi anak yang badung ketika SMA ya…
Saya jadi kangen masa2 SD saya… :mrgreen:

9 ispryono March 26, 2009 at 4:15 am

Waktu SD (di Cimahi) saya malah jago nyanyi, tampil kedepan duluan dipanggil guru, lagunya: SERUMPUN PADI TUMBUH DISAWAH. Gede malah jadi penulis, bukan penyanyi.
Ikut belasungkawa atas kepergiannya.

Leave a Comment

Previous post: Vox Populi Vox Dei

Next post: You Are What You Have