Karena sebaris kata menggetarkan diatas sebuah kehendak dapat dipaksakan atas nama Tuhan.
Pengatas namaan, saya tentu mesti membuka sebuah ruang pengertian yang lapang tentang hal ini, bisa jadi masing-masing tentu punya definisi yang tidak sama, dan masing-masing juga, saya meyakini punya alasan yang objektif dan cukup melogika akan hal ini, beserta seluruh pengecualiannya.
Kita boleh saja meragukan, apakah suara segelintir rakyat bisa manjadi suara Tuhan yang harus menjadi wujud dan mendadak dituruti, tapi sebelum sampai pada titik ini, kita mesti melihat juga bagaimana proses penyampaian keinginan itu berlangsung dan mungkin dengan pergulatan panjang yang cukup melelahkan.
Kasus yang terjadi di Medan kemarin, dan entah untuk yang keberapa kalinya, kejadian yang sama akan selalu menjadi tontonan yang miris, tapi sekali lagi, kita hanya melihat bagaimana sebuah chaos mengerikan terjadi, tanpa sedikitpun kita menyentuh proses yang mendahuluinya. Dan acapkali muatan tentang ini sangat tidak berimbang.
Kenapa demonstrasi harus turun ke jalan, dibumbuhi anarkis dan urakan, saya memikirkan sebuah pembenaran atas sikap itu yang tentu saja kita boleh meragukan, adalah karena aspirasi dan suara rakyat tak lagi digubris, dikesampingkan, dianggap suara segelintiran rakyat, dan tak perlu dibesar-besarkan bahkan cenderung dirememhkan, atau lebih karena ketidak tahuan birokrasi yang tidak transparan dalam penyampaian pendapat dan keinginan rakyat, saya juga tidak tahu.
Dan terkadang, sikap tidak kalah arogannya dari para wakil kita, mrekea bukan mengajaknya untuk duduk satu meja, meminta melengkapi apa yang kurang dari ide-ide dan keinginan rakyat, agar suara mereka bisa dianggap suara rakyat yang diwakili, sehingga sekecil dan seremeh apapun suara rakyat akan tertampung dan tersalurkan, tanpa perlu turun kejalan, apalagi kekhawatiran soal anarkisme.
Akhirnya, ke-engganan mereka (wakil rakyat itu) untuk lebih bisa mendengar suara rakyat atau saya lebih suka menyebutnya sebagai sikap petentang-petenteng, Vox Populi Vox Dei membutuhkan tumbal dari kebuntuan penyampaian dan ke egoisan wakil rakyat.
Jika Vox populi memakan korban dari kalangan atas, herannya, sikap aparat begitu cepat dan terkesan begitu tegas, tapi jika mereka salah dalam menentukan kebijakan apalagi kekuasaan yang diselewengkan hingga meremukkan nilai-nilai keadilan sosial, menjatuhkan rakyat dalam jurang kemiskinan dan kesengsaraan hidup, aparat, seperti yang kita tahu, tak seberingas jika kejadian ini berbalik.
Vox Populi vox dei bisa jadi memakan korban dari manapun, hal yang biasa atau tidak saya pun tak tahu. tapi yang jelas bagi saya, merapalkan kaimat itu seperti mengucapkan mantra-mantra yang mengerikan, butuh amis darah agar suara rakyat yang samar dan terkesan lemah mempunyai kekuatan dashyat agar bisa disebut sebagai suara Tuhan.




{ 4 comments… read them below or add one }
padahal kalo semuanya tertib dan terkendali… rasa aman ama damai tuh bakalan selalu ada untuk kesegaran udara hidup manusia ya om? he..he..
Saya cenderung ke sosialis aja deh trus nggak mau sampe membaui amis darah, bersih bersih diri dulu
makanya aku pernah bilang, kalo mo bikin kegiatan pake aja nama Tuhan. Atas nama Dia, apa saja jadi boleh. Ironis banget
Para elite politik kita emang sibuk ngurus perut sendiri. Suara rakyat justru diantisipasi sbg goncangan kedudukkan. Kalo parlemen jalanan udah bergerak susah ditebak, anarkhis-demokratis-atau apa entahlah.
Mari saudara-saudaraku sebangsa & setanah-air, senasib & sependeritaan, kita heningkan cipta untuk negeri kita tercinta.
Sampai kapankah kita akan terus begini…….?