Bukan tanpa alasan saya memilihnya sebagi sebuah tagline, sederhana, kesederhanaan dalam hal apapun, kesederhanaan tanpa batas.
Selain ide blog yang sederhana, keterbatasan pengetahuan akan penguasan materi, dan mungkin kedangkalan dari cara berpikir, saya menggunakan kata simplicity, simple, yang saya gabung-gabungkan dengan bahasa asing yang acak adul, dengan maksud memberi penekanan pada kata sederhana itu.
Henry David Thoreau, saya pikir, cukup memberikan gambaran tentang kesederhaan itu dengan begitu apik, “As you simplify your life, the laws of the universe will be simpler; solitude will not be solitude, poverty will not be poverty, nor weakness weakness“.
Dalam beberapa hal, kita memang boleh beda dalam menyederhanakan sesuatu, tidak begitu saja menyederhanakan semua-mua persoalan, tetapi tidak serta merta membuatnya terjun bebas menjadikannya polemik akut, dan tak segera menemukan jalan keluar, dalam hal ini pun saya kira, dibutuhkan kesederhanaan sikap untuk menerima sebuah perbedaan kalau saja saya tidak ingin mengatakannya sebagi sebuah kedewasaan sikap.
Persoalan hidup, begitu juga persoalan bangsa akhir-akhir ini, meskipun tidak semakin mudah dan sederhana, tapi lagi-lagi menurut saya, bukankah siapa yang salah ya harus dihukum, yang rudin dan paria mesti kita bela, yang dirugikan harus menerima ganti rugi, seperti halnya kesederhanaan dalam teori sebab akibat?.
Tentu, sampean bisa mengatakan persoalan bangsa tak sesederhana itu, anda bisa mengatakan saya salah tentang menyikapi sebuah kederhanaan dalam hidup dan semua persoalan dalam kehidupan bebangsa, sekali lagi, bisa jadi saya salah.
Di akhir, saya ingin mengutip sekali lagi David Thoreau, seorang transcendendetalist, penulis dan sekaligus seorang philospoher itu, dan menjadikannya sebagai sebuah bahan renungan sejenak.
“Simplicity, simplicity, simplicity! I say, let your affairs be as two or three, and not a hundred or a thousand instead of a million count half a dozen, and keep your accounts on your thumb-nail.”




{ 9 comments… read them below or add one }
kalau bisa simple kenapa harus rumit, iya kan?
simple is sincere…
kalo kata guspur..
gitu aja kok repot…
hehehe
bagaimana kita bisa menyederhanakan sesuatu yang sulit, itulah pokok masalah manusia dalam menghadapi hidup *sotoy*
wah keren neh kebetulan suka math
simpel itu melegakan dan enteng
Kesederhanaan kadang membuat kita lebih santai dan tenang menghadapi hidup. Sehingga kita bisa selalu berbahagia dengan apapun yang dititipkan Tuhan pada kita. So, kalo ingin bahagia, kesederhanaan itulah jawabannya
*halah… sok tua*
sepurane cak, suwe ga mampir
Bener. Lebih baik simple, bisa penghematan banyak.
Tp saya jd ingat kata2 mereka yg hobi merumit2kan yg simple : “Kalo bisa dibuat susah, kenapa hrs dikasih mudah?”
“Simplicity is the ultimate sophistication” – Leonardo da Vinci
wah..bahasanya mantap. kapan ya bisa nulis dengan model tulisan macam ini