“Persetan, Gak dadi jendral gak pateken”
(Tidak jadi jendral gak bakal sakit patek/kusta)
Sejauh yang saya ketahui ada dua kalimat yang bernada sama, dan yang satu berbunyi “tidak jadi presiden ya gak pateken”, yang terakhir saya sebut, tentu sampean sudah sangat mengenalnya dan memang kalimat itu menjadi terkenal karena disiarkan berulang-ulang hampir diseluruh jaringan televisi nasional maupun swasta saat itu. Bagaimana tidak, bahasa jawa bernada umpatan itu diucapkan oleh seorang presiden yang telah berkuasa selama hampir 32 tahun mendekati berakhirnya masa-masa kediktatorannya. tentu saja sudah tuwuk (baca : bosen) lantaran kelempoken (Baca : kekenyangan).
Sama-sama bernada kekesalan, tapi mengandung makna yang berbeda dan mendalam, kalimat yang pertama adalah yang diucapkan bung kecil pengobar semangat asli arek suroboyo, yang oleh bung karno dipanggilnya jendral kancil karena banyak akal, dan jendral kancil itu tidak lain adalah bung tomo.
Bung tomo berkata demikian, setidaknya ini saya ketahui dari istri bung tomo, Sulistina Sutomo dalam bukunya “Bung Tomo Suamiku“. Kalimat itu adalah umpatan khas masyarakat jawa, dan itu diucapkan bung tomo setelah menghadapi pilihan sulit yang disodorkan oleh Amir syarifuddin, menjadi jendral besar tapi dilarang berpidato atau tidak lagi menjadi Jendral tapi boleh berpidato, dan seperti yang kita tahu, bung tomo memilih jalan kedua, dan pilhan itu adalah pilihan yang sulit dibayangkan akan dilakukan oleh pemimpin negeri di akhir-akhir ini.
Buku itu banyak bercerita tentang drama kehidupan percintaan di masa perang mengusir Balanda melalui NICA di Surabaya, antara bung Tomo dan istrinya Sulistina, dan kisah itu tak kalah dramatisnya dengan kisah-kisah percintaan anak manusia yang lain yang tak selalu menemui jalan mulus.
Apa yang telah bung tomo lakukan seharusnya benar-benar menjadi contoh bagi setiap pewaris negeri ini selama masa berperang sampai masa mengisi kmeerdekaan, dan itu bisa kita lihat bagaimana bung tomo masih saja membela rakyat dengan memilih berbeda jalan dan pendapat dengan penguasa saat itu dengan memilih menginap di hotel prodeo yang pengap dan apek itu.
Note : Judul itu saya ambil dari salah satu surat bung Tomo kepada istrinya, yang ditulis pada 16 April 1952




{ 7 comments… read them below or add one }
hai para jenderal*, bacalah ini!
*jenderal yang hobi mbalon
TFS … bakalan masuk list buku yang akan saya beli nih.
No comment
heeheh …aduh saya jd geli sendiri ketika mencoba mengucapkan kata2 itu… berarti jaman dulu penyakit kusta itu lg ngetop2nya ya. klo sekarang mungkin bakal bilang, “Gak jadi jendral ga bakal kena flu burung kok!” eh padahal justru flu burung bs kena siapa aja ya… xixixix…
wah..pilihannya benar2 sulit..tapi Bung Tomo berani mengambil keputusan yang benar2 berbeda..Salut Bung!!!
Dulu.. Darah itu merah jenderal..
Kini.. Ada yg merah, kuning, ijo.. Tergantung partainya lah.. Hahahahaha
sulit memprediksi situasi sekarang ini, boeng tomo sosok yang sulit ditandingi, kita sbg orang muda pasti sedih kenapa sih kita diberi sisa-sisa masa lalu yg justru sisa-sisa itu dikeruhkan sendiri oleh mereka yang katanya ‘demi negara’ atau ‘demi rakyat banyak’ pertanyaannya skrg negara yang mana dan rakyat yang mana? hehee….heheee….heee….. kita prihatin banget mau dikemanakan negeri tercinta ini.