Divide Et Impera

by admin on November 22, 2008

Jadul, Ndesit, tapi tidak bisa dibayangkan jika seandainya saja politik memecah belah jaman Belanda beserta bangsa yang telah sukses besar mengaplikasikannya di Indonesia itu dulu masih menguasai negeri ini.

kasus ributnya perebutan kekuasaan, yang tidak tanggung-tanggung sampai menumpahkan darah rakyat yang entahlah, mungkin mereka dengan tulus melakukannya atau dibayar murah itu dapat menjadi sebagian contoh kecil tentang hausnya mereka dan sebagian besar dari kita akan kekuasaan, dan semua jalan menjadi legal, kita lihat saja kasus pemilihan pemimpin daerah itu, sampai kasus pemilihan pemimpin-pemimpin yang lain tak luput kasus perebutan kursi kepemimpinan suatu partai politik sekalipun, semua ribut, dan kekerasan menjadi jalan yang seolah-olah mampu mengobati rasa kehausan mereka akan kekuasaan.

Seperti Agus R sarjono, yang membuat pertanyaan menggelitik masa kecil itu terjawab, ya, kenapa kita sebagai bangsa besar yang makmur bisa dijajah berturut-turut dari portugis sampai Belanda. Terutama oleh persekutuan dagang yang berkantor kecil, seperti Vereenigde Oostindische Compagnie itu. Akhirnya, dengan melihat keadaan sosial politik Indonesia, dan beberapa uraian diatas, pertanyaan itu, yang jujur saja, saya baru tahu kalo itu mesti menjadi pertanyaan besar bagi saya, terjawab sudah.

Jika saja kondisi seperti dulu, VOC masih bercokol disini, dan pemilu 2009 sebagai ajang unjuk adu pokok menang serta mengabaikan prestasi adalah sebuah pencapaian, tentu bisa dipastikan salah satu dari yang kalah akan menjilat pantat VOC, menghiba bantuan dengan berderet konsesi.

Dulu masih lebih baik, dengan puisi kolektif sumpah pemuda dengan beberapa tokoh mudanya, cerita Indonesia sebagi negeri terjajah berakhir dengan manis, meski perjalanan setelah itu masih panjang dan berliku.

Sekarang? tentu saja kondisinya lain, keterpurukan ekonomi, hebatnya korupsi yang dilakukan generasi penerus yang dulu diidamkan mampu mengisi dan melanjutkan misi bangsa yang besar, dan terkungkungnya idealisme mahasiswa yang terpagari pagar kampus itu, cerita happy ending berakhirnya VOC seperti dulu itu terjadi di jaman sekarang ini terasa hanya mimpi.

Memang, menjadi bangsa yang merdeka itu bukan urusan gampang, Kembali perlahan kita menuju Indonesia yang abstrak.

{ 16 comments… read them below or add one }

1 syamsu November 23, 2008 at 1:46 am

korupsi akar dari semua masalah bangsa ini mas :-D

2 debrian November 23, 2008 at 1:56 am

pic nya bagus.. itu dimana ? salam kenal.

3 Hedi November 23, 2008 at 3:17 am

selain korupsi, divide et impera masih ada di negeri ini bahkan caranya lebih canggih :D

4 escoret November 23, 2008 at 4:27 am

ngemeng2…[...] kita menuju Indonesia yang abstrak. [...]
itu artinya apa bang..???

5 zee November 23, 2008 at 5:52 am

Merdeka, tapi mental bekas dijajah sekian ratus tahun itu seakan sdh menjadi turun temurun di bangsa kita. Egois, rakus, tamak, pemalas. Gak gampang memang mengubah semua itu.

6 tipis November 23, 2008 at 8:30 am

lho emang kita sudah merdeka ya? kok gk ngerasa :D negeri kita tercinta ini rasanya kok masih tetap terjajah. terjajah secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya. bahkan penjajahan ini sudah sampai ke ranah agama. cuman kitanya aja nggak ngerasa. mereka menang lagi deh :(

7 budi November 23, 2008 at 11:52 am

mungkin korupsi udah mendarah daging dibangsa kita ini.

apakah anda bersih dari korupsi!!!!

8 utchanovsky November 24, 2008 at 6:18 am

Sad but true, kemunafikan yang ditutup2i

9 bangpay November 24, 2008 at 4:54 pm

Hmmm.. Tulisan yang (cukup) dalem.. Dibanding tulisan saya yang mbahas penjajahan hanya dari sudut nasi! Lihat saja postingan terakhir saya.. Jan tulisan saya kapan mutunya ya..

–lama gak mampir disini, kangen.. :) hahaha..

10 easy November 24, 2008 at 7:57 pm

ada yang bilang, kita harus memutuskan mata rantai pemerintahan utk 1 generasi dulu barulah korupsi bisa teratasi

11 arafi November 24, 2008 at 11:51 pm

mas
lam knl yach

mw tanya nech,,cara biar Page Rankny naek tu gmn sich??

blsny d blog ku aja yach

makasii

12 LieZMaya November 25, 2008 at 3:04 am

awa aw jadi inget masa culun belajar sejarah.
btw wah ganti cat rumah ya hihi dah lama nggak nongkrong bengong disini.

13 Artha November 25, 2008 at 5:51 am

Selain itu juga pengakuan terhadap karya bangsa sangat kecil, dan cenderung di blow up kegagalannya, padahal klo di support bisa jadi akan menciptakan sebuah karya yang besar

14 e November 28, 2008 at 12:48 am

apa yang beda dari jamannya VOC dan sekarang ? tidak ada
apa yang sama dari jamannya VOC dan sekarang ? urip ngenes !!!

15 kyai slamet December 3, 2008 at 10:10 am

saya tahu salah satu gubernur jenderal VOC masa kini. konon di jidatnya ada tato 666
:D

16 arafi January 4, 2009 at 9:31 pm

aa,,,ktemu lg nich,,pdhl lg blog walking asal2an nich,,btw,,moral bangsa tu yg penting,,jd g cm pinter doank,,tp bermoral juga..

Leave a Comment

Previous post: Don’t Wait!

Next post: Afternoon Coffee