Jadul, Ndesit, tapi tidak bisa dibayangkan jika seandainya saja politik memecah belah jaman Belanda beserta bangsa yang telah sukses besar mengaplikasikannya di Indonesia itu dulu masih menguasai negeri ini.
kasus ributnya perebutan kekuasaan, yang tidak tanggung-tanggung sampai menumpahkan darah rakyat yang entahlah, mungkin mereka dengan tulus melakukannya atau dibayar murah itu dapat menjadi sebagian contoh kecil tentang hausnya mereka dan sebagian besar dari kita akan kekuasaan, dan semua jalan menjadi legal, kita lihat saja kasus pemilihan pemimpin daerah itu, sampai kasus pemilihan pemimpin-pemimpin yang lain tak luput kasus perebutan kursi kepemimpinan suatu partai politik sekalipun, semua ribut, dan kekerasan menjadi jalan yang seolah-olah mampu mengobati rasa kehausan mereka akan kekuasaan.
Seperti Agus R sarjono, yang membuat pertanyaan menggelitik masa kecil itu terjawab, ya, kenapa kita sebagai bangsa besar yang makmur bisa dijajah berturut-turut dari portugis sampai Belanda. Terutama oleh persekutuan dagang yang berkantor kecil, seperti Vereenigde Oostindische Compagnie itu. Akhirnya, dengan melihat keadaan sosial politik Indonesia, dan beberapa uraian diatas, pertanyaan itu, yang jujur saja, saya baru tahu kalo itu mesti menjadi pertanyaan besar bagi saya, terjawab sudah.
Jika saja kondisi seperti dulu, VOC masih bercokol disini, dan pemilu 2009 sebagai ajang unjuk adu pokok menang serta mengabaikan prestasi adalah sebuah pencapaian, tentu bisa dipastikan salah satu dari yang kalah akan menjilat pantat VOC, menghiba bantuan dengan berderet konsesi.
Dulu masih lebih baik, dengan puisi kolektif sumpah pemuda dengan beberapa tokoh mudanya, cerita Indonesia sebagi negeri terjajah berakhir dengan manis, meski perjalanan setelah itu masih panjang dan berliku.
Sekarang? tentu saja kondisinya lain, keterpurukan ekonomi, hebatnya korupsi yang dilakukan generasi penerus yang dulu diidamkan mampu mengisi dan melanjutkan misi bangsa yang besar, dan terkungkungnya idealisme mahasiswa yang terpagari pagar kampus itu, cerita happy ending berakhirnya VOC seperti dulu itu terjadi di jaman sekarang ini terasa hanya mimpi.
Memang, menjadi bangsa yang merdeka itu bukan urusan gampang, Kembali perlahan kita menuju Indonesia yang abstrak.