From the monthly archives:

November 2008

Afternoon Coffee

by admin on November 28, 2008

“Tentu saja, istri saya akan menangis histeris, jika saya meninggalkannya tanpa sebab yang jelas, palagi ada indikasi orang ketiga, dan sebaliknya, tentu istri saya akan lebih siap, she looks more tough jika saya kembali mengajaknya hidup miskin tanpa harta dan hidup serba kekurangan”

Aha… begitu kata seorang teman tadi sore, ketika kembali kita nongkrong di cafe sudut kota kecil, awan menghitam, mendung mulai menampakkan diri dari selatan dengan membawa butir air yang rincik serta angin yang kencang.

Entah karena sebab mendung itu ia mengajak saya mampir ngobrol ngalor ngidul, curhat seorang kepala rumah tangga, membanggakan pasangan atau memang dia mulai enggan untuk segera pulang.

{ 14 comments }

Divide Et Impera

by admin on November 22, 2008

Jadul, Ndesit, tapi tidak bisa dibayangkan jika seandainya saja politik memecah belah jaman Belanda beserta bangsa yang telah sukses besar mengaplikasikannya di Indonesia itu dulu masih menguasai negeri ini.

kasus ributnya perebutan kekuasaan, yang tidak tanggung-tanggung sampai menumpahkan darah rakyat yang entahlah, mungkin mereka dengan tulus melakukannya atau dibayar murah itu dapat menjadi sebagian contoh kecil tentang hausnya mereka dan sebagian besar dari kita akan kekuasaan, dan semua jalan menjadi legal, kita lihat saja kasus pemilihan pemimpin daerah itu, sampai kasus pemilihan pemimpin-pemimpin yang lain tak luput kasus perebutan kursi kepemimpinan suatu partai politik sekalipun, semua ribut, dan kekerasan menjadi jalan yang seolah-olah mampu mengobati rasa kehausan mereka akan kekuasaan.

Seperti Agus R sarjono, yang membuat pertanyaan menggelitik masa kecil itu terjawab, ya, kenapa kita sebagai bangsa besar yang makmur bisa dijajah berturut-turut dari portugis sampai Belanda. Terutama oleh persekutuan dagang yang berkantor kecil, seperti Vereenigde Oostindische Compagnie itu. Akhirnya, dengan melihat keadaan sosial politik Indonesia, dan beberapa uraian diatas, pertanyaan itu, yang jujur saja, saya baru tahu kalo itu mesti menjadi pertanyaan besar bagi saya, terjawab sudah.

Jika saja kondisi seperti dulu, VOC masih bercokol disini, dan pemilu 2009 sebagai ajang unjuk adu pokok menang serta mengabaikan prestasi adalah sebuah pencapaian, tentu bisa dipastikan salah satu dari yang kalah akan menjilat pantat VOC, menghiba bantuan dengan berderet konsesi.

Dulu masih lebih baik, dengan puisi kolektif sumpah pemuda dengan beberapa tokoh mudanya, cerita Indonesia sebagi negeri terjajah berakhir dengan manis, meski perjalanan setelah itu masih panjang dan berliku.

Sekarang? tentu saja kondisinya lain, keterpurukan ekonomi, hebatnya korupsi yang dilakukan generasi penerus yang dulu diidamkan mampu mengisi dan melanjutkan misi bangsa yang besar, dan terkungkungnya idealisme mahasiswa yang terpagari pagar kampus itu, cerita happy ending berakhirnya VOC seperti dulu itu terjadi di jaman sekarang ini terasa hanya mimpi.

Memang, menjadi bangsa yang merdeka itu bukan urusan gampang, Kembali perlahan kita menuju Indonesia yang abstrak.

{ 16 comments }

Don’t Wait!

by admin on November 16, 2008

“Menulislah, jangan sampai menunggu ide itu berkembang didalam otakmu, atau kau tidak akan pernah menuliskanya sama sekali”

Terkadang sampai juga pelajaran itu disana, tapi entah kenapa semua seperti hanya lewat, atau memang ilmu dan pelajaran itu hanya sekedar pengetahuan, tak pernah saya mencobanya, apalagi sampai menjadikannya sebagai sebuah petunjuk.

Sebagian lagi bilang kalo hal itu manusiawi, atau hanya sekedar pembenaran seperti halnya saya dan mereka sering lakukan.

{ 11 comments }

Wait For… (…..?? part 2)

by admin on November 5, 2008

Kepada bayangan senja yang bersembunyi dibalik cahaya, apa yang sebenarnya kau nanti…. dan kenapa kau biarkan dirimu diam dan membeku. Tinggalkan saja masa lalumu…

dalam pekatnya langit malam
dalam dekapan angin yang berhembus perlahan
dalam balutan puisi yang begitu puitis
sedangkan kau tahu…
asa itu hampir terputus
membiru diantara buih-buih riak kehidupan
airmata itu telah kering
membias diantara lembayung mentari
sepi…

Sungguh, apa yang terasa hanya bagaikan tipuan-tipuan kanak-kanak yang berlari-lari kecil dipinggir pantai sambil mengejar bayang lembayung yang semakin menjauh..

Terima kasih telah memberi asa baru, membuat daun-daun hijau kembali menyapa lembutnya mentari pagi, membuat desir angin hangat mendesah…
Aku memang tidak akan pernah tahu jalan yang akan ditempuh, karena semua jalan yang bercabang itu serasa tak pernah berujung…
Aku tahu menanti adalah sesuatu yang membuat arang-arang menjadi patah, membuat hari-hari terasa sepi dan membeku, merobohkan begitu banyak ranting-ranting diujung harap…
Tapi, bukankah semua layak untuk dicoba..? Bukankah merpati tidak pernah ingkar dengan janjinya..?

.. Semoga ini bukan suatu mimpi.. !

~ Duh… Kenapa tiba-tiba, inbox email saya jadi penuh dengan beginian! ~

{ 11 comments }