Das Seiendes

by admin on May 23, 2008

das Seiendes

belatung berkerumun di borok. mencuil plasma dan
merenggut virus lewat getih. meronta menggerogoti
otak dan kemaluanmu yang amis

kau tarik testesteron melewati kelenjar limfatik
memadati luka, mengkorek borok di kelaminmu
yang tak pernah sembuh

tubuhmu semakin mengecil seiring obat alpa
di kerongkongan. meminta maut menggali kuburmu,
membakarmu dengan tulang-tulang dan kondom bekas
sebagai tungku pembakar.

Surabaya, Juli 2006

By Eva Dwi Kurniawan

 

Seni, dalam bentuk apapun kadang memang sangat mengharukan, dan terkadang, saya memang kurang bisa menikmatinya, entahlah, dibutuhkan rasa untuk bisa melihat pesan terdalam yang dibawanya atau malah dibutuhkan indera yang lebih untuk mengetahui makna yang terkandung dengan jelas.

Saya mencuplik sebuah puisi seperti dibawah ini, saya tak tahu apa yang menarik darinya, saya hanya mengutipnya lantaran kekurang ajaran saya saja, tak lebih, kok rasanya seperti menonjok, karena memuat pesan yang lebih terkesan moral yang sudah membudaya dan memasyarakat itu. Apa hanya karena judul yang tidak saya mengerti ya?.

Source dari sini

{ 37 comments… read them below or add one }

1 edy May 23, 2008 at 8:16 am

saya juga ga terlalu ngerti puisi
tapi biasanya tertarik dng hal unk yg ada di dalamnya
kalo contoh di atas, penggunaan istilah kedokteran kali yak :D

2 Adis May 23, 2008 at 9:46 am

das seindes itu artinya apa? ini puisi tentang diri sendiri kah?? hehe…

3 elmo May 23, 2008 at 10:42 am

puisinya tak ada kata manis.. hehe..

4 yudi May 23, 2008 at 11:01 am

bisa dijelasin artinya mas? ko susah juga ya menafsirkan puisi:-?

5 waterbomm May 23, 2008 at 11:25 am

tentang free sex kah?

6 Hedi May 23, 2008 at 12:14 pm

Das seiendes…kalo cuma das seiend artinya sekarang (kata benda)…kayaknya puisi ini bercerita soal akibat sebuah tindakan di masa lalu :D
*sok tahu mode on*

7 bayu May 23, 2008 at 12:25 pm

ughh dalam,..
eh tapi saya suka pemilihan katanya…
nggak tau juga seh arti dan maksudnya apa,.. :(

8 Andre May 23, 2008 at 1:10 pm

Ini tentang virus AIDS ya? ato tentang free sex?? waduh bingung…

9 Fikar May 23, 2008 at 1:39 pm

Wah, saya juga gk paham :D

10 Abi Bakar May 23, 2008 at 1:55 pm

keknya menceritakan orang yang kena penyakit kelamin akibat melakukan hubungan sex tak sehat…:-?

11 ika May 23, 2008 at 3:11 pm

terus terang pak saya ndak mudeng,,wedew.. sambil garuk2 pala neh,,heheh

12 aAng May 23, 2008 at 4:32 pm

puisi
membingungkan
terjemahin donk

13 jimmy May 23, 2008 at 11:28 pm

saya sudah baca 3 kali puisi ini dan masih gak ngerti :o .. maksudnya apa ya? jadi penasaran juga..

14 tipis May 23, 2008 at 11:29 pm

waduh gk mudeng aku, maksute opo to mas? :D

15 Raffaell May 24, 2008 at 1:09 am

Kurasa yah, kurasa…
ini yang nulis puisinya seorang ahli biologis deh…. pake testoteron, limfa, kelenjar,
BWAKAKAKAKA!

16 Wempi May 24, 2008 at 7:40 am

Dokter yang hoby puisi, hm :-?

17 Wiellyam May 24, 2008 at 9:17 am

apaan sih? kok bingung ya :( (

18 zee May 24, 2008 at 12:52 pm

Komentar saya pertama kali baca puisi itu : “Makjang!!”

19 antown May 24, 2008 at 7:06 pm

saya lebih suka seni visual, bisa main2 mata hehehe

20 Fachia May 25, 2008 at 12:31 am

:-? iya saya juga bingung baya judulnya mas..

21 leksa May 25, 2008 at 12:36 am

Kadang memang bahasa yang njelimet itu justru ingin berteriak soal sosial..
terkunci dalam essay2 resmi mungkin
kata Seno “Ketika jurnalistik dibungkam, sastra harus bicara”

22 deniar May 25, 2008 at 1:31 am

Gak terlalu ngerti puisi.. but good…. :applause:

23 natazya May 25, 2008 at 7:25 am

ah… setuju! seni itu susah buat dipahami… ga semua orang punya berkah buat memahami dengan mudahnya…

salam kenal btw :)

24 cewektulen May 25, 2008 at 1:41 pm

puisi kan multitafsir, jadi silahkan tafsirkan sendiri, sesuak hati, semau kita…

25 santi d May 25, 2008 at 3:28 pm

Sama dong .. sini juga sering ngga ngerti puisi hehehe.

BTW, apakah kamu yang ninggalin pesan di blog saya kemarin? Kalau iya, sudah saya jawab itu di situ. Kalau masih ada pertanyaan, silahkan tanya ya nanti saya usahakan ngasih penjelasan.

26 taliguci May 25, 2008 at 3:30 pm

Coba dibaca pelan-pelan, sambil dihayati.. belum ngeh. Dibaca kilat.. masih belum ngeh juga.. Bacanya sambil jumpalitan.. tetep aja nggak tau. Bacanya dari kirinya, nah ini baru asyik…

27 santi d May 26, 2008 at 12:27 am

Halo, Pudak :D . Sudah saya reply lagi itu. Salam hangat. S

28 Dino May 26, 2008 at 7:28 am

Iya sama aku juga tidak bisa memahami seni..
Kalo seni adalah wanita hampir bugil terus difoto secara aneh-aneh, aku agak sedikit paham :d

29 linda May 26, 2008 at 10:20 am

puisi termasuk sastra kelas tinggi buat saya
biasanya kalo berpuisi hanya bahasa standar aja

30 puputs May 26, 2008 at 3:38 pm

berarti buka saya yang berjiwa seni rendah, tapi memang puisinya yang sulit dimengerti

31 Iko May 28, 2008 at 11:09 am

Hmmm…..:-?

Isinya dalem banget, menceritakan sosok laki2 yang hidung belang, keknya :d

sok tahu banget deh Iko, hehehe :) >-

32 ichanx May 29, 2008 at 12:03 am

belum ngerti… mmm… kenapa kamu harus dibakar ama tulang-tulang dan kondom bekas? kenapa bukan disiram bensin aja? kan lebih praktis… meskipun bensin seliter udah 6000, tapi harga kondom kan tetep lebih mahal? (loh?) hihihih

33 cewektulen May 29, 2008 at 1:12 pm

puisinya bagus, walo tidak memakai kata-kata romantis

34 Iman Brotoseno May 30, 2008 at 11:35 am

Presiden Kennedy pernah bilang,..Jika politik membuat pertentangan, maka berikan puisi.

* Das seindes , ada hubungan dengan adagium das sein das sollen ?

35 KieN May 30, 2008 at 1:04 pm

:d …aku ga ngerti ..hehe

36 sluman slumun slamet May 31, 2008 at 10:01 pm

kisah seorang lelaki hidung belang ya?

37 devari June 1, 2008 at 1:26 am

bunyi bait ke dua sangat mirip dengan bunyi salah satu sloka (ayat) dalam salah satu kitab suci Hindu called Sarasamuccaya

Leave a Comment

Previous post: May, Here Just a Little Note!

Next post: Kwik Kian Gie