Das Seiendes
May 23, 08 by admindas Seiendes
belatung berkerumun di borok. mencuil plasma dan
merenggut virus lewat getih. meronta menggerogoti
otak dan kemaluanmu yang amis
kau tarik testesteron melewati kelenjar limfatik
memadati luka, mengkorek borok di kelaminmu
yang tak pernah sembuh
tubuhmu semakin mengecil seiring obat alpa
di kerongkongan. meminta maut menggali kuburmu,
membakarmu dengan tulang-tulang dan kondom bekas
sebagai tungku pembakar.
Surabaya, Juli 2006
By Eva Dwi Kurniawan
Seni, dalam bentuk apapun kadang memang sangat mengharukan, dan terkadang, saya memang kurang bisa menikmatinya, entahlah, dibutuhkan rasa untuk bisa melihat pesan terdalam yang dibawanya atau malah dibutuhkan indera yang lebih untuk mengetahui makna yang terkandung dengan jelas.
Saya mencuplik sebuah puisi seperti dibawah ini, saya tak tahu apa yang menarik darinya, saya hanya mengutipnya lantaran kekurang ajaran saya saja, tak lebih, kok rasanya seperti menonjok, karena memuat pesan yang lebih terkesan moral yang sudah membudaya dan memasyarakat itu. Apa hanya karena judul yang tidak saya mengerti ya?.
Source dari sini
Begitulah sejarah, dia tak mampu untuk membawa pelaku yang terbukti jahat ke balik ruangan berjeruji, karena sampai disitulah batas kemampuannya, dan hari ini kita mengingatnya untuk kesepuluh kalinya. dan kesekian kalinya tanpa ada niatan untuk mengkoreksinya kembali.
Bisakah mereka tidur pulas dihari-hari seperti ini. Mungkin saja keinginan untuk tidur dan tidak akan bangun lagi cukup besar dalam benak masing-masing.




