Spiga

Archive for May, 2008

Das Seiendes

May 23, 08 by admin

das Seiendes

belatung berkerumun di borok. mencuil plasma dan
merenggut virus lewat getih. meronta menggerogoti
otak dan kemaluanmu yang amis

kau tarik testesteron melewati kelenjar limfatik
memadati luka, mengkorek borok di kelaminmu
yang tak pernah sembuh

tubuhmu semakin mengecil seiring obat alpa
di kerongkongan. meminta maut menggali kuburmu,
membakarmu dengan tulang-tulang dan kondom bekas
sebagai tungku pembakar.

Surabaya, Juli 2006

By Eva Dwi Kurniawan

 

Seni, dalam bentuk apapun kadang memang sangat mengharukan, dan terkadang, saya memang kurang bisa menikmatinya, entahlah, dibutuhkan rasa untuk bisa melihat pesan terdalam yang dibawanya atau malah dibutuhkan indera yang lebih untuk mengetahui makna yang terkandung dengan jelas.

Saya mencuplik sebuah puisi seperti dibawah ini, saya tak tahu apa yang menarik darinya, saya hanya mengutipnya lantaran kekurang ajaran saya saja, tak lebih, kok rasanya seperti menonjok, karena memuat pesan yang lebih terkesan moral yang sudah membudaya dan memasyarakat itu. Apa hanya karena judul yang tidak saya mengerti ya?.

Source dari sini

May, Here Just a Little Note!

May 12, 08 by admin

Chaos MayBegitulah sejarah, dia tak mampu untuk membawa pelaku yang terbukti jahat ke balik ruangan berjeruji, karena sampai disitulah batas kemampuannya, dan hari ini kita mengingatnya untuk kesepuluh kalinya. dan kesekian kalinya tanpa ada niatan untuk mengkoreksinya kembali.

Agh… tidakkah cukup sejarah yang membisikkan diam-diam ke telinga kita tentang siapa yang salah, siapa yang terpinggirkan, dan siapa yang patut dibela?, meskipun kadang, sejarah hanya diam ketika keadilan juga ikut tersepak.

Dibalik kerusuhan mei sepuluh tahun silam itu, kita hanyalah saksi dari sebuah peristiwa, sebuah perjalanan panjang dari peradaban kita sebagai bangsa, dan mengingat peristiwa itu membuat hati siapa saja yang mengenangnya menjadi mbegidik. Sebuah peristiwa yang menuntut darah dan sekaligus nyawa dari beberapa mahasiswa, dan seperti yang kita rasakan sampai sekarang, itu saja tidaklah cukup, perjuangan masih berlanjut.

Dan semua tak akan pernah melupakan, sebuah perjuangan sepuluh tahun silam memang melahirkan pahlawan yang layak untuk kita teladani bagi sebuah perjuangan yang menuntut kesejahteraan dan perubahan besar sebagai sebuah bangsa, dan didalamnya juga melahirkan penghianat, yang kita bisa tahu sekarang, disadari atau tidak, mereka leha-leha menikmati hasil, dan sekarang telah berubah arah dengan berdalih mereka tetap berjuang dalam koridor yang lain, konstitusi katanya, sedikit gombal memang, dan kita bisa tahu juga, segelintir penghianat itu berusaha keras untuk melupakan sejarah yang kita peringati hari ini, peringatan tanpa ceremony khusus terhadap pahlawan kampus itu.

Agh, memang sejarah sepuluh tahun lalu itu telah kita bungkus rapat, entahlah, apa lantaran dia tak mampu lagi bicara banyak atau dia terlalu banyak melahirkan penghianat. Dan tulisan ini tak akan menyimpulkan apapun, lantaran ini hanya catatan pribadi saya untuk rekan penghianat perjuangan di balik gedung berlapis beton disana.

 

Gambar dari sini.

 

Indonesia Today!!!

May 06, 08 by admin

IndonesiaBisakah mereka tidur pulas dihari-hari seperti ini. Mungkin saja keinginan untuk tidur dan tidak akan bangun lagi cukup besar dalam benak masing-masing.

Karena bangun dari tidur sama buruknya dari mimpi buruk itu sendiri.

Ya.. ini soal harga-harga dan ekonomi negara yang kian semrawut, kebutuhan yang sebentar lagi tak mudah untuk dipenuhi, lantaran skenario kenaikan itu sudah terlanjur di sodorkan dan pelaku telah menyikapinya.

“Menjadi pemimpin yang bijak sana bijak sini itu ndak mudah mas!, dan sebuah keputusan itu memang harus memihak, tak bisa berdiri ditengah-tengah dan memangku keduanya itu hal yang tak mungkin dilakukan”.

Bukankah mitos gua dan gambaran negara ideal itu sudah ada dalam dialog Republic nya Plato?, negara yang telah dibayangkan plato itu seperti tubuh manusia yang terdiri dari akal di kepala, kehendak di dada dan nafsu diperut?, dan masing-masing mempunyai kebijakan sendiri-sendiri, akal mencita-citakan kebijakan, kehendak mencita-citakan keberanian dan nafsu harus dikekang agar kesopanan dapat ditegakkan. Maka negara juga terdiri dari tiga bagian itu, pemimpin, pembantu dan pekerja (para petani, misalnya), lantas apakah sekarang kaum petani yang dengan kata lain, rakyat, yang harus dikorbankan?, bukankah ia adalah bagian dari tubuh juga? tidak dapatkah kita mengambil hikmah dari sana? dimanakah negara?

“Agh.. embuh mas, bisa jadi sampean itu ndak paham soal konsep negara filosofi nya Plato itu”

“Agh mungkin saja, paham ndak paham tetap membuat saya ndak bisa tidur, khawatir, apa yang akan terjadi esok hari”

 

May Day

May 01, 08 by admin

BuruhSaya ndak tahu apa yang mesti dilakukan untuk sekedar menunjukkan solidaritas pada kaum buruh hari ini, dimana mereka tengah memperingati hari jadinya.

Ironi memang, semestinya hari jadi itu dirayakan dengan senang-senang atau mirip-mirip pesta dengan sedikit beralkohol agaknya sedikit akan dihalalkan, pokoknya hari yang mesti identik dengan tertawa dan kebahagiaan disana dan juga disini.

Dunia memang tak lagi mengenal batas dan sisi, keinginan kaum buruh bisa beragam dibelahan dunia manapun, tapi semua mengerucut ke arah sana, kesejahteraan.

Tak semua dari mereka berada dalam kuadran mapan sebagai buruh, “karena itu mas, tak semua teman-teman mendukung dan setuju dengan apa yang kita lakukan” begitu kata saudara buruh. “agh..tidak juga, saya juga berterima kasih sama saudara-saudara itu yang rela berpanas-panasan, entah kenapa, negara seolah berpaling muka dan mendadak menjadi tuli jika bicara soal kaum buruh, lantaran teriakan dan gedor-gedor pagar di istana kekuasaan membuat mereka menunduk dan menatap tangan-tangan kita yang kasar, karena mereka, saya menikmati kenaikan gaji tiap tahun, yang memang tak selalu seimbang itu, meski kadang terima kasih saya tak pernah terucap”.

Siapa yang salah, entahlah, semua cenderung samar, saling melimpahkan polemik di atas kepentingan masing-masing, antara pengusaha, dan negara sebagai pengambil kebijakan. Drama Marsinah memang tak berhenti ditahun 1993.

Buruh, harus rela untuk terus terdesak ke sudut, dengan dijejali segala kenaikan biaya dan tentu denda-denda atas segala kelebihan beban hidup yang kian tak sedikit.

Ada yang bilang dengan dalam kondisi terpaksa, “masih lumayan mas! dari pada tidak bekerja”, lalu, apa pernyataan itu lantas membuat kita menyerah?.

Bicara soal ini bisa jadi panjang, bisa jadi saya terlalu berpikir berlebihan hanya untuk sekedar ber uneg-uneg, karena terlalu lama diruang ini dan tetap sebagai seorang buruh.

Anggap saja saya salah, apa sampean punya yang lain?

 

gambar dari sini