Saya hanya ingin mengutip ini, tanpa alasan jelas, tapi lebih tepatnya setelah saya membaca nama Kika Dhersy Putri, setelah melihatnya disalah satu station tv lokal dan melanjutnya di mesin Google, dan saya menemukan penggalan ini, nampaknya, ini penggalan yang tercecer, meski dari blog lain, bukan dari blog pribadi Kika Dhersy Putri. Saya mengutipnya bulat-bulat dari sini.
Senyummu, di Pigura (Kika Dhersy Putri)
Imanmu pada “bismillah”, imanku pada “dalam nama Bapa”. Dan senyummu di pigura.
Kita pacaran sudah berapa lama? Sembilan tahun! Waktu itu kita masih 3 SMP. Lalu tiga tahun lagi di SMA. Lalu empat tahun waktu kuliah. Dan satu tahun saat kita mulai jadi karyawan kantoran.
Lalu Minggu siang itu, kita antar umimu arisan keluarga. Kita naik mobil papaku, dan rosario berhias salib dan Bunda Maria teruntai di kaca spion depan.
Suara tercekat di bangku belakang. Lirih. “Astagfirullahaladzim!” Dan umimu diam sepanjang jalan. Mukanya pucat. Matanya tak mau melihat mukaku.
Esoknya, kau meminta izin mengambil kembali hatimu. Abahmu marah, umimu menangis, mereka sepakat menyalahkan diri sendiri seolah salah mendidik anak, dan sepakat menyalahkanmu soal pergaulan.
Dan di atas TV pigura itu. Tertulis di dalamnya Tsamara Jannah binti Said Zaenal dan nama lelaki yang tak pernah kukenal. Senyummu dan senyumnya. Undangan pernikahanmu yang kubingkai khusus.
Kuputar lagu favoritmu sebagai latar:
….aku untuk kamu
kamu untuk aku.
(Marcell – Peri Cinta)
{ 0 comments }



